“Halo..Assalamualaikum.” salam ku kepada orang diseberang telepon.
“Iya..Waalaikumsalam..Haiii kamuuu.” Jawaban centil terdengar dari ujung teleponku.
“Apa kabar ? udah lumayan lama ya aku ga denger suara kamu.”
“Ahahahaha…iya ya. Kamu sih sibuk sini sibuk sana. Tapi ga apa-apa ko. Soalnya kan bbm atau sms tetep jalan.”
“Oh iya ya. Ya makanya karena aku sibuk disini, jadi kaya yang ngelupain kamu. Tapi tenang aja ko. Biar kita beda tempat, sebetulnya kamu ga pernah jauh-jauh. Kamu masih tetep di hati aku.”
“Aaaah mamaaaah aku digombaliiiin sama Galiiiiiih.” Suara manja itu berubah menjadi teriakan.
“Hahahaha ya engga segitunya juga Na.” ujarku.
“Kamuuu, kapan libur ?” Suara manja itu bertanya padaku.
“Tanggal 5 Juli. Kamu ?”
“Sama…..”
“Lah ko gitu doang ? kita harus ketemu ya. Kangeeeeeen !!!!”
“Aaaaaaah mamaaaaaah aku digombalin lagiiiii !!! Iya aku juga kamuuuuu !!!!”
“Ah mamah aku digombalin sama Finaaaaaaa… Hahahahaha.”
“Huuuu ngikutin aja. Galih sayaaang, aku mau ke bukit bintang sama temen-temen nanti malem.”
“Hah ? ngapain ?”
“Upgrading himpunan mahasiswa Biologi sayaaang.”
“Itu kan dingin. Pake jaket ! Udah Izin ke mamah belom ?”
“Belom….ah pasti ga bakal boleh deh sama mamah. Aku kan sekretris HIMA yang, masa ga ikut.”
“Iya se-engga-nya kalo kamu izin kan mamah tau. Coba kalo mamah ga tau, terus ada apa-apa ? makin marah yang ada mamah kamunya.”
“iya deh nanti aku izin ke mamah. Kamu ga kuliah ?”
“Nanti siang. Tapi nanti jam 9 mau asistensi Pa Juanda. Dia ga bisa dateng katanya.”
“Asik deh asisten dosen hihihihihi…”
“Iya asik tapi lebih asik lagi jadi pacar kamu.”
“sayang, stop ya udah mau meledak ini aku kamu gombalin melulu hahahaha.”
“Hahahaha iya deh, udahan dulu ya. Nanti disambung lagi.”
“Ok mas asisten hehehehe. Daaaaaah…..”
“Daaaaaaaah Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam……”
“I love u Fina.”
“Love u too Galih.”
Fina, gadis yang sudah ku pacari lebih kurang dua bulan. Memang bisa dibilang kita pasangan baru. Tapi aku dan dia sudah dekat sejak sekolah menengah pertama. Fina teman satu sekolahku. Kami sempat sekelas ketika kelas tiga. Fina gadis periang yang sangat baik. Jijik terhadap serangga seperti kecoa atau belalang.
Lulus SMP, Fina lanjut ke SMA Setia Budi. Sedangkan aku di SMA Nusa Bakti. Berbeda sekolah tapi kita masih suka berbalas sms atau berbalas shootout friendster.
Dulu, fina sering bercerita mengenai pacarnya yang overprotective. Fina kesini ga boleh, Fina kesana sama aja. Akhirnya karena dia kesal, aku yang jadi pelampiasannya. Menemani dia mengetik beribu-ribu karakter di layar handphone-nya.
Aku tidak keberatan. Karena kita sudah berteman cukup lama. Dan tanpa kusadari aku jatuh cinta kepada Fina. Tapi sayang, kita beda sekolah.
Aku termasuk orang yang mempunyai sikap cemburu berlebih. Pernah ketika aku berpacaran dengan Dina, kami hanya bertahan satu bulan. Karena mungkin, Dina tidak kuat menghadapi aku yang kurang bisa percaya. Padahal kita satu sekolah. Hanya beda kelas. Aku IPA, Dina IPS.
Lalu setelah lulus, aku dan Fina sama-sama tidak punya pacar. Namun sayang, kita tidak bisa satu almamater lagi. Aku Di Universitas Kalahari Bogor fakultas Teknik Geodesi, sedangkan Fina di Universitas Gita Persada Malang jurusan biologi fakultas MIPA.
Biarpun masih satu pulau, namun tetap saja jarak yang terbentang antara kita sangat jauh. Tapi, biar jarak jauh, kita tetap melakukan kontak. Apalagi jaman sekarang sudah ada facebook atau twitter. Makin mudah untuk kita saling tukar kata.
Oia, aku bisa jadian sama dia karena aku rasa dia adalah wanita yang paling pas untuk mengisi kekosongan hati ini. Dia yang paling ngerti, bisa jadi kakak atau adik sesuai porsi yang memang sedang kita butuhkan.
Ketika liburan pun aku beranikan diri untuk main ke rumahnya. Ngobrol, jalan bareng memutari seisi kota Bekasi, dan mengisi liburan bersama. Biarpun hanya sekali dua kali bertemu, aku beranikan diri untuk mengatakan cinta. Dan alhasil, kita jadian. Suatu hubungan yang seharusnya kita jalani sejak sekolah dulu.
Sekarang kita menjalani hubungan jarak jauh. Hubungan yang banyak orang menghindari untuk melakukan ini. Kita tidak terlalu ambil pusing. Karena alat untuk menghubungkan dua orang yang beda tempat sudah menjamur sekarang. Ada facebook, twitter, sms, atau blackberry messanger.
Kita pernah bercanda soal bagaimana jika di jaman sekarang, masih menggunakan surat. Ya kita dengan pongahnya menertawakan pemikiran ini. Karena jika memang masih menggunakan surat, aku bisa pastikan tidak akan ada hubungan ini. Jika dipaksakan, yang ada mungkin seperti judul-judul lagu. Ketika Fina aku tinggal, tidak ada kabar karena pos-nya bermasalah, dia pergi meninggalkan aku dengan laki-laki lain. Dan ketika aku pulang, lalu bertemu dia, kata yang pertama kali keluar dari mulutnya bukan “akhirnya kamu pulang. Aku kangen banget !!!” tapi “Maaf, aku udah sama cowo lain. aku kira kamu udah ngelupain aku karena ga ngasih kabar.”
Duh, jika itu memang terjadi, pastinya aku akan hancur sehancur-hancurnya. Karena aku sangat sayang kepada Fina.
Tapi provider jaman sekarang juga sepertinya menjurus ke arah sperti itu. Pending yang super parah, sampai ke handphone hidup dibilang mati oleh operatornya.
***
Siang ini selesai asistensi aku langsung pulang ke kosanku yang cuma berjarak lima meter dari pintu gerbang kampus. Rencana sih mau langsung istirahat. Tapi telepon selular yang aku kantongi tiba-tiba bergetar. Di layarnya tulisan “Fina”. Ada apa Fina siang-siang menelepon ?
“Assalamualaikum…..Haiii Finakuuu.”
“Waalaikumsalam….Haiiii Akang Galih hehehe. Aku ganggu kamu ga ?”
“Engga ko..aku udah selesai asistensi. Tumben yang nelpon jam segini ?”
“Uuuuh gaya deh pacar aku hehehe..Iya aku kangen aja pengen denger suara kamu.”
“Uuuuuuh maca ciiih ? hahahaha.”
“Hehehehe…sayang kamu udah makan ?”
“Belom, baru aja sampe kosan. Emang kamu udah ?”
“Belom, aku mau diet yang. Soalnya aku genduuuuuut !!!”
“Hiiiy kamu mah kan aku udah bilang kamu itu ga gendut. Kamu udah pas. Ga usah ditambah atau dikurangin. Kamu itu cewe aku banget Fina sayaaaaaang. Uuuuh aku cium juga nih !!!”
“Aw mau dong dicium hehehehe.. iya tadi anak-anak bilang aku gendutan. Waaaaa…pokonya aku harus diet !!!”
“Yah boleh tapi kalo udah sakit, pusing, atau lemes buru-buru makan. Aku ga mau lho ya kamu sakit parah disana. Apalagi gara-gara diet. Ok.”
“Iya sayangkuuuu…Uuuuuh aku peluk juga nih biar ga kemana-mana. Biar disini aja nemenin aku huhuhu.”
“Hehehehe aku juga mau yang nemenin kamu. Tapi nanti ya ga sekarang-sekarang.”
“Hehehehe yaudah deh. Kamu makan dulu ya. Jangan sampe ga makan lhooo.”
“Siap !!! Uuuh pacarnya siapa sih perhatian banget hehehe.”
“Pacarnya Galih Pratama hehehehe…Yaudah deh. Daaah sayaaaaang !!! Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam Fina Nagara Utami-ku.”
Ya, Fina selalu mendengar apa yang temannya ucapkan. Jujur, aku kurang nyaman dengan keadaan ini. Dimana Fina terlalu percaya dan mudah terhasut omongan teman-temannya. Pernah dulu Fina cerita kepadaku untuk camping di sekitaran Gunung Bromo. Ya aku selalu bilang ke Fina untuk izin kepada Ibunya. Karena mau bagaimana juga, ridho orang tua adalah ridhonya Allah swt. Dan aku mengikuti. Meskipun aku kurang suka, asal ibunya Fina memberi izin, aku setuju. Karena Fina belum sepenuhnya menjadi milik dan tanggung jawabku. Nanti setelah menikah, baru Fina menjadi otoritasku.
Ceritanya ada acara kecil-kecilan dari ketua HIMA baru dimana Fina menjadi sekretarisnya. Fina bilang, acara itu harusnya sudah seminggu yang lalu. Tapi karena minggu kemarin aku dengan tegas melarangnya, akhirnya Fina menurut dan acara itu batal. Kenapa aku melarangnya ? ya dia wanita, naik motor, berangkat malam. Aku tidak mau ambil resiko terlalu besar. Karena resiko keluar malam itu jika benar-benar kejadian, akibatnya fatal. Pertama, kecelakaan karena jalan yang gelap dan lampu yang kurang. Kedua, Fina itu sama denganku. Ia tidak bisa kena dingin barang sedikit. Karena pasti sinusitis atau flu langsung menyerang. Belum lagi batuk-batuk yang juga ikut menjadi satu paket. Dan yang paling parah yang ketiga, mereka sudah sama-sama dewasa, Fina adalah gadis manis yang dimana saja dia berada, laki-laki mana yang tidak melirik kepadanya. Aku takut ada setan lalu terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Biarpun tidak terjadi, Fina dicolek atau disentuh oleh laki-laki lain aku tentu tidak terima. Maka ketika itu Fina aku larang ikut.
Namun, dasar teman-temannya yang memang ingin jalan-jalan, minggu depannya Fina diajak lagi. kali ini agar Fina mau ikut, mereka menggunakan mahasiswa baru sebagai alasannya. Mereka bilang, jika Fina tidak ikut, maka anak-anak baru yang masih lugu itu juga tidak akan ikut. Dan sebagai hukuman moralnya, Fina dibilang, “Ga asik lo Fin.”
Yah, orang mana sih yang tidak tersinggung jika di-cap seperti itu ? Fina izin dulu kepadaku tapi sebelumnya aku bilang untuk izin ke ibunya. Menurut Fina ia tidak akan mendapat izin dari ibunya jika harus perjalanan jauh di malam hari ditambah menginap. Akhirnya ia berangkat dengan menyisakan kekesalan dan kekhawatiran di dadaku.
Kita marahan di hari itu. Karena Fina memaksa dan aku dengan berat hati mengizinkan. Kita putus komunikasi selama dua hari. Namun, di hari kedua aku mulai untuk mencoba menyapa Fina. Sekaligus mengecek keadaanya.
Kudapati suara Fina yang bindeng. Fina bilang dia pulang di hari pertama karena sudah tidak kuat. Flu yang mulai masuk ke tubuhnya, membuat Fina menyesal. Karena tidak mendengarkan pertimbanganku.
Aku paham dan maklum, karena terkadang aku juga seperti itu. Egois, merasa segalanya akan baik-baik saja. Padahal kita tidak tahu ada apa di depan sana.
Fina minta maaf kepadaku. Ya dengan lapang dada aku maafkan dia. Dan aku juga minta maaf karena mendiamkan dia kurang lebih dua hari.
Fina berjanji untuk memberi tahu ibunya dahulu sebelum bepergian jauh atau melakukan hal yang memang butuh persetujuan ibunya.
Dan aku berharap kejadian seperti ini tidak terulang.
***
Maghrib menyongsong. Sang fajar mulai enggan menunjukkan sinarnya ke arah jendela kamar kosanku yang sangat minimalis.
Sebelum sholat maghrib, aku sempatkan mengirim pesan lewat blackberry messanger kepada Fina. Aku tanya apakah dia jadi ke bukit bintang malam ini ? jika jadi, sebelumnya harus izin dulu ke ibunya.
Beres mengirim pesan, aku dekatkan diri kepada allah swt. Karena mau bagaimana juga, cintaku kepada Fina tidak boleh melebihi cinta ini kepadaNya.
Fina membalas bbm dariku dan bilang dia sudah izin. Sekitar pukul delapan nanti Fina berangkat.
Aku membalasnya dengan, ya hati-hati. Jangan banyak bercanda dan jangan ditinggal sholatnya. Aku juga bilang jika aku ingin belajar dahulu. Jadi, saling mengirim pesan lewat bbm-nya ditunda dulu.
Fina setuju. Lagi juga dia mau packing. Karena waktu berangkat tinggal dua jam lagi.
Akhirnya selama itu aku perdalam materi tanah dan batu yang menurutku mudah. Namun entah mengapa banyak temanku yang bilang materi di teknik geodesi itu cukup untuk menjadi alasan mahasiswa untuk mengundurkan diri. Kadang mahasiswa teknik juga berlebihan. Sama seperti mahasiswa politik atau hukum yang mulutnya tidak pernah bisa diam.
Jam menunjukkan pukul delapan. Tapi telepon selularku belum berbunyi. Apakah Fina tidak jadi berangkat atau bagaimana. Aku telpon, tidak diangkat. Ya dengan harap-harap cemas aku menunggu berita dari Fina.
Jam delapan lebih lima belas, Fina baru menghubungiku. Dia minta maaf karena tadi dia ada di kamar Ekki. Fina bilang, teman yang berasal dari Makassar ini tiba-tiba perutnya sakit. Jadi, Fina bantu Ekki untuk meringankan rasa sakit di perutnya.
Lalu Fina bilang dia berangkat jam setengah sembilan. Naik mobil charter-an yang disupiri oleh Anto. Teman sekampus Fina yang berasal dari Jakarta. Setiap harinya Antolah yang mengantar jemput Fina. Aku sempat cemburu kepada Anto. Apalagi ditambah cerita Fina sendiri bahwa dahulu, sebelum kita jadian, Anto sempat suka kepada Fina. Tapi, Fina bisa memastikan cuma aku yang ada di hatinya. Lagi juga Anto sudah punya pacar, seorang mahasiswi baru di kampusnya tersebut.
Fina juga bilang, dia sudah diizinkan oleh ibunya. Maka tidak ada alasan untukku melarangnya pergi.
***
Jam di meja belajarku menunjukkan pukul setengah sepuluh. Tapi tumben, Ridho belum sampai. Dia mahasiswa hukum. Asal Jakarta. Dari tampangnya yang tampan, wanita mana yang tidak bertekuk lutut di depan Ridho. Jika dibandingkan denganku, sungguh aku sangat tidak tahu diri. Karena wanita yang ada di depanku bukan bertekuk lutut tapi menekuk-nekuk tubuhku lalu dibuang ke tong sampah.
Setahuku Ridho punya pacar di Jakarta. Alin namanya. Mahasiswi farmasi universitas Dharma Persada.
Dulu ketika semester-semester awal, Alin lewat message facebook meminta nomor teleponku. Alin bilang ini untuk melacak gerak-gerik Ridho di Bogor. Ya aku dengan tidak enak hati, memberi nomorku. Jadilah hampir setiap hari, telepon selularku berdering menandakan ada sms yang masuk dari Alin.
Aku rasa sikap Alin tidaklah berlebihan. Karena memang dalam kenyataannya, Ridho seperti yang tidak sayang kepada Alin. Dia suka antar-jemput teman wanitanya. Bagaimana aku bisa tahu ? karena teman wanitanya Ridho itu dibawa ke kosan. Aku melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana mesranya sepasang anak muda yang setahuku tidak berpacaran. Dan aku, tidak pernah mau memberitahu Alin soal ini. Karena aku takut di-cap mulut besar. Lagi juga itu kan urusan mereka. Karena aku punya urusan sendiri.
Aku tidak bisa membayangkan jika itu adalah aku. Dimana lewat telepon bermesraan dengan Fina tapi disini ternyata membagi hati juga dengan wanita lain. aku tidak mau seperti itu. Karena jika Fina melakukan itu juga disana. Sungguh aku merasa menjadi laki-laki bodoh.
Lagi-lagi aku lihat layar blackberry Gemini curve-ku. Tidak ada tanda-tanda Fina. Aku cemas. Maka, aku kirim pesan. Namun, sampai pukul setengah sebelas, belum ada balasan dari Fina. Aku telepon, tidak ada suaranya sama sekali. Maka aku putuskan untuk bersabar dan menunggu.
Kenapa aku tidak bertanya kepada teman-temannya Fina ? aku tidak punya nomor-nomor telepon teman-temannya Fina. Aku tidak mau seperti Alin yang menanyakan kabar pacarnya dari orang lain. Aku lebih nyaman untuk bertanya langsung. Agar tidak ada yang ditutupi dan agar sikap curigaan tidak berkembang diantara kami.
***
Ah, pagi yang dingin di Ibu Kota Pakuan. Dulu , ketika jamannya kerajaan masih Berjaya di Indonesia, Bogor adalah pusat pemerintahan dari kerajaan Padjadjaran. Kata ayahku, perumahan Rancamaya menjadi tempat penyimpanan abu keluarga kerajaan Padjadjaran. Maka aku dengan bangga sebagai seorang keturunan sunda, menuntut ilmu di ibu kota kerajaan sunda terbesar ini.
Rasa bangga itu sirna karena dari semalam aku belum mendapat kabar dari Fina. Aku cek draft blackberry messenger yang bertuliskan nama Fina, masih ada symbol “D”. Itu artinya dia belum membaca pesanku.
Aku coba untuk menelepon, tapi tetap tidak ada suara. Ah ada apa ini ? aku mencoba untuk positive thinking. Aku ambil handuk, mandi lalu berangkat ke kampus.
***
“Galih, bagaimana asistensi kemarin ?” Tanya Pak Juanda.
Laki-laki bertubuh tambun ini adalah dosen pengampu mata kuliah tanah. Dia salah satu dosen sibuk yang jarang sekali ada di kampus. Maka ketika pembukaan pendaftaran asisten dosen, aku mencoba melamar untuk menjadi asdos mata kuliah tanah.
Alhamdulillah, aku diterima. Tapi mulai dari situ waktuku untuk Fina agak berkurang. Karena aku harus memeberikan waktuku lebih banyak di kampus. Dan Alhamdulillah lagi, Fina mengerti akan hal ini. Lagi juga Fina tergabung dalam HIMA Biologi di kampusnya. Jadi tidak ada yang bengong ketika salah satu dari kita sibuk.
Fina senang aku aktif juga di kampus. Kata Fina banyak teman-temannya yang putus hubungan karena salah satu dari mereka sangat aktif. Entah itu di HIMA atau perkumpulan lainnya. Fina tidak mau hubungannya dengan ku berakhir hanya gara-gara Fina yang sibuk sana sibuk sini tanpa memperdulikan aku.
Maka, untuk mengimbangi kesibukan ini, berbalas pesan lewat konten yang tersedia menjadi solusi utama.
“Oh iya pa, kemarin saya sudah menjalankan apa yang sudah bapa tulis di draft. Anak-anak juga banyak yang masuk kuliah.” Jawabku
“Baik, terima kasih ya Lih. Bapa percaya sama kamu. Baik itu saja yang ingin saya tanyakan.” Tutup Pak Juanda.
“Iya sama-sama pa. kalau begitu saya permisi.”
Aku pergi meninggalkan ruangan Pak Juanda. Di koridor kampus yang dipenuhi tanaman buah dalam pot, telepon selularku berdering. Di layarnya ada tulisan “Rahma”.
Rahma adalah adiknya Fina. Dia masih kelas tiga SMA. Secara teknis, Rahma adalah adik kelasku. Karena dia bersekolah di sekolah yang sama denganku.
“Assalamualaikum, ka Galih.” Suara Rahma terdengar lirih.
“Waalaikumsalam..Iya ada apa Ma ? tumben nelepon kaka.”
“Ka Fina ka, ka Fina kecelakaan.” Rahma mengeraskan suaranya yang terdengar menahan tangis.
“Apa ? Fina kecelakaan ? Bagaimana kejadiannya ? Fina Bagaimana ?” Aku panik. Aku mengeraskan suaraku.
“Mobil yang dipake ka Fina untuk ke bukit bintang masuk jurang. Sekarang ka Fina ada di ruang gawat darurat. Belum sadar.” Rahma tak kuasa lagi menahan tangisnya.
“Ok sekarang Rahma di rumah sakit mana ?” Tanyaku makin khawatir.
“Aku di rumah ka. Ayah sama Mamah yang kesana.” Jawab Rahma.
“Ok Kakak tanya ke Mamah aja ya. Rahma ga boleh putus doain Ka Fina ya.”
“Iya ka, yaudah deh Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam, makasi ya Ma.”
Seraya telepon dari Rahma kututup, langsung jari ini mencari nama Tante Andaru. Aku tunggu telepon diangkat dengan harap-harap cemas.
“Assalamualaikum tante.”
“Waalaikumsalam Galih.”
“Tante bagaimana kabar Fina ?”
“Ah iya Galih, tante lupa ngasih kabar ke kamu. Fina masih di ruang gawat darurat. Belum sadar dari semalam.” Nada suara tante Andaru lebih khawatir daripada Rahma tadi.
“Ok gini deh tante, apa nama rumah sakitnya ? ada di jalan apa ?” tanyaku.
“Rumah sakit Dharma sakti Gal. Di jalan Airlangga 1 Malang.”
“Ok deh tante, secepatnya saya kesana.”
“Loh emang ga apa-apa Gal ?”
“Ga apa-apa ko tante. Makasi ya tan, Assalamualaikum”
“Iya sama-sama Gal. Waalaikumsalam.”
Aku langsung bergegas menuju kosan. Aku seakan lupa bahwa aku harus kuliah.
***
Di dalam kereta Gajayana jurusan Malang, aku duduk pun tidak tenang. Bahkan tadi di jalan sebelum aku masuk membeli tiket, aku sempat beradu mulut dengan calon penumpang yang lain. memang tadi salahku menyerobot barisan. Tapi karena aku memang sangat tergesa-gesa, maka aku tidak memperdulikan norma.
Tidak terasa sudah setengah perjalanan. Menurut Fikar, temanku yang berkuliah di Universitas Brawijaya, dari Jakarta sampai ke Malang kurang lebih dua belas jam jika menggunakan kereta. Aku juga sudah minta tolong kepada Fikar untuk mengantarkanku ke rumah sakit dimana Fina berada.
Aku mencoba menelepon tante Andaru lagi, “Assalamualaikum, Halo tante. Aku udah setengah perjalanan ke Malang nih.”
“Waalaikumsalam Gal. Oh iya hati-hati ya.”
“Bagaimana Fina tante ?”
“Alhamdulillah sekarang sudah pindah ke ruang perawatan.”
“Apa nama ruangannya Tan ?”
“Ruang Edelweis 5. Ya sudah kamu hati-hati ya. Tante sama Om tunggu disini.”
“Iya, makasi tante Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Sebelum berangkat ke Malang, aku sudah pamitan ke Ibu. Beliau titip salam untuk Fina agar cepat sembuh. Dan beliau berpesan agar aku jangan terlalu lama di Malang. Karena aku masih punya tugas di Bogor.
Tanpa minum apalagi makan, akhirnya perjalanan dua belas jam terselesaikan. Fikar sudah menungguku di luar peron.
“Kar, makasih ya. Gue ga tau apa-apa soal Malang.”
“Iya Gal. yang penting sekarang kita langsung ke rumah sakit.” Ujar Fikar coba menenangkanku. “Apa nama rumah sakitnya ?”
“Dharma Sakti Kar. Lo tau ?”
“Tau, itu deket rumah pacar gue hehehe. Udah santai dulu, kalem aja. Fina udah sadar ?”
“tadi sih kata nyokapnya udah pindah dari ruangan gawat darurat ke ruang perawatan. Mungkin udah sadar kali.”
“Lah gimana sih Gal ? hehehe…Yaudah sabar kita kesana sekarang.”
Mobil Fikar melaju menembus jalanan kota Malang yang hawanya terasa sejuk.
***
“Mah….mamah disitu ?” suara lirih Fina memanggil ibunya.
“Iya sayang mamah disini. Ada apa ?” tangan lembut itu mengusap rambut Fina.
“Aku dimana mah ? Ayah mana ?”
“Kamu di rumah sakit sayang. Ayah lagi sholat maghrib.”
“Mah, maafin aku ya udah bikin repot mamah.”
“Fina, mamah ga pernah ngerasa direpotin sama kamu. Mamah juga ga marah ko kamu ke bukit bintang kemarin. Soalnya kamu udah minta izin.”
“Iya mah aku ngerasa durhaka aja sama mamah sama ayah.”
“Hus ga boleh bilang begitu. Yang penting sekarang kamu istirahat.”
“Temen-temen aku bagaimana mah ?”
“Semuanya sudah di kamar perawatan ko Fin. Sudah kamu tidur lagi ya. Mau minum dulu ?”
“Engga mah, oia mah aku boleh minta sesuatu ?”
“Apa itu sayang ?”
“Kertas sama pulpen. Aku mau nulis.”
Dengan bingung tante Andaru mencari secarik kertas dan pulpen yang diminta oleh Fina. Setelah dapat, ia langsung menuju ke kamar perawatan lagi.
“Ini Fin. Untuk apa ?” tanya tante Andaru penasaran.
“Aku mau nulis surat mah.”
“Untuk siapa ?”
“Untuk Galih. Pasti dia terus coba hubungin aku dari kemarin.”
Tante Andaru hanya tersenyum melihat tingkah anaknya.
“Mah, aku boleh minta tolong lagi ?”
“Iya sayang apa ?”
“Tolong surat ini dimasukin ke kantor pos. Kirim ke alamatnya Galih di Bogor.”
“kenapa ga mau pakai handphone saja Fin ?”
“Aku ga mau bikin Galih khawatir disana karena denger suara aku yang lemes mah. Biar surat ini yang wakilin aku.”
“Oh iya sayang. Yaudah sekarang kamu istirahat. Kata dokter kamu belum boleh banyak bergerak.”
“Iya mah. Makasi ya. Aku sayang mamah sama Ayah.”
“Iya sayang. Mamah sama ayah juga sayang sama kamu.”
Fina terpejam dengan infuse ditangan kirinya dan alat bantu pernapasan menempel di hidungnya.
Tante Andaru tersenyum haru membaca tulisan Fina. Dan menaruhnya di dalam tas.
***
“Gal, sholat dulu yuk di masjid rumah sakit.” Ajak Fikar.
“Oh iya Kar, ayo ayo.”
Selesai sholat di masjid yang memang berada di kompleks rumah sakit, aku langsung menuju meja informasi. Menanyakan letak kamar Edelweis 5.
Kamar itu berada di lantai dua. Rumah sakit yang bisa dibilang modern ini memiliki fasilitas lift, sehingga aku dan Fikar lebih mudah untuk menuju kesana.
Saat ini kota Malang sedang riuh rendah. Karena ada konser dari artis ibu kota. Vidi Aldiano.
Tadi saja aku dan Fikar sempat tertahan agak lama di sekitaran pintu masuk rumah sakit. Karena konser itu hanya berjarak lima ratus kilometer dari rumah sakit.
Di depan kamar perawatan Edelweis 5, Om Tanto ayahnya Fina sedang duduk sambil merokok.
“Assalamualaikum Om.” Aku raih tangan Om Tanto untuk bersalaman.
“ Waalaikumsalam. Eh Gal sampe jam berapa ?” Tanya Om Tanto.
“Sekitar Jam lima om. Oia bagaimana keadaan Fina ?”
“Alhamdulillah sudah sadar. Dia sempet pendarahan dari kepala Gal. soalnya dia duduk disamping supir. Kata saksi mata, mobilnya itu oleng karena supirnya ga meratiin marka jalan. Jadi aja masuk jurang. Mobilnya ga ringsek. Cuma kebalik aja”
“Terus temen-temennya Fina gimana ?”
“Ya mereka sama kaya Fina. Sempet ga sadar. Tapi sekarang semuanya udah di ruang perawatan ko. Yang paling parah itu supirnya. Kepalanya harus dijahit.”
Dari arah dalam kamar, keluar Tante Andaru.
“Eh Galih sudah sampe. Udah lama ?”
“Baru aja ko tante. Oh iya om tante ini Fikar.”
Fikar menjabat tangan om Tanto dan tante Andaru.
“Yaudah deh Gal. gue tinggal ya ? Kalo ada apa-apa sms aja ya.”
“Ok deh makasi ya Kar.”
“Om, tante saya pamit ya. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam” jawab kami bertiga.
Sepeninggalan Fikar, aku minta izin kepada om Tanto dan tante Andaru untuk masuk ke dalam menemui Fina.
Mereka bilang silahkan tapi jangan coba-coba bangunkan Fina. Dan aku mengangguk setuju.
Sebelum aku masuk, tante Andaru menahanku,”Gal ini ada surat dari Fina.”
Surat ? aku terima saja dan langsung masuk ke kamar perawatan dimana Fina berbaring disana.
Kamar dengan temaram lampu berwarna putih gading menyinari Fina yang terbaring lemah di sudut ruangan. Aku ambil kursi dan duduk tepat disebelah kiri Fina. Kupandangi wajahnya yang tenang. Dan aku menahan air mata. Karena aku tidak tega melihat gadis yang ku sayang itu terbaring lemah.
Kuusap rambutnya yang panjang dan hitam. Kucium keningnya. Dan tiba-tiba aku teringat akan surat yang diberikan tante Andaru tadi.
Beliau bilang ini dari Fina. Berarti Fina sempat sadar tadi. Tapi kenapa tante Andaru tidak mengabariku ?
Kubuka perlahan lipatan kertas itu, lalu kubaca..
Assalamualaikum Galih…..
Maaf ya udah ga ngasih kabar ke kamu. Aku ga ada maksud ko untuk cuek sama kamu. Karena aku tau kamu paling ga suka dicuekin.
Maafin aku juga ya, yang selalu ga dengerin apa omongan kamu. Suka egois. Dan maaf juga udah bikin kamu khawatir karena ga ngasih kabar ke kamu.
Aku ga apa-apa ko disini. Kalo selama aku menghilang kaya gini ada yang bilang ke kamu aku kecelakaan, itu bohong. Aku cuma lecet sedikit ko. Ga ada luka yang berarti.
Cuma aku pernah mimpi ada kamu nyari-nyari aku di suatu taman yang indah dan luas. Ketika kita bertemu, aku udah mau dibawa terbang sama seseorang yang aku sendiri ga kenal. Tapi karena kamu bersikeras narik aku lagi ke tanah, makanya aku ga jadi terbang. Dan ketika aku tersadar dari mimpi itu, udah ada mamah di samping aku. Setelah itu aku jadi pengeeeeen banget nulis surat ini.
Lagi juga dulu kita pernah ngebahas soal surat kan ? terus kamu bilang ga ngebayangin kalo hubungan jarak jauh dijembatanin cuma sama surat. Kamu bilang hubungan itu ga bakal berjalan.
Aku bikin surat ini bukan untuk mengakhiri pelan-pelan hubungan ini. Aku cuma ga mau kamu khawatir. Lagi juga aku ga tau ada dimana bb aku. Oia, hari ini genap kita tiga bulan. Makasi ya sayang udah nemenin aku selama tiga bulan ini
Aku sayang sama kamu….
Aku baca berulang-ulang tulisan itu. Setelah aku yakin ini tulisannya Fina, aku pindah kesebelah kanan, aku genggam dan cium tangan Fina. Dalam hati ini aku berbisik,”Sayang, aku tau kamu bohong. Kamu ga lecet biasa. Tapi tenang aja, selama aku bisa, aku mau bikin kamu bahagia. Dan aku sendiri yang bakal mastiin kamu baik-baik aja. Sekarang istirahat aja dan cepatlah sembuh. Aku mau lihat senyum kamu itu. Karena aku selalu jatuh cinta ketika ngeliat senyum kamu. Tenang, aku udah ga terlalu khawatir sekarang. Karena aku ada disamping kamu. Dan makasi juga udah mau ngertiin, dan nemenin aku tiga bulan ini. Oia jadwal ketemu kita dimajuin yang yang ? hehehe I Love U Fina Nagara Utami.”
Ah, kenapa aku bisa lupa tiga bulanan kita jatuh di hari ini ? mungkin karena di otakku hanya ada bayangan Fina saja.
Dari kejauhan terdengar sayup-sayup lagu “jiwaku terang di malam itu” yang dinyanyikan langsung oleh Vidi.
Aku melihat segaris senyum dari bibir Fina. Apakah dia mendengar bisik hatiku tadi ? aku coba untuk pejamkan mata disamping Fina sambil tetap menggenggam tangannya. Dan berharap setelah aku bangun nanti, Fina sudah sembuh dan menjadi Finaku yang selalu membuat aku jatuh cinta.